Spasial Messo Permukiman Kampung Petilasan Wuring Kota Maumere

Ambrosius Alfonso Korasony Sevili Gobang

Abstract


Tepi laut atau pesisir pantai merupakan ruang yang relatif dominan bagi permukiman perairan di Indonesia. Satu
diantaranya adalah kawasan permukiman Suku Bajo di kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang Kecamatan
Alok Barat Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Permukiman kampung di Wuring memiliki
kekhasan yaitu dibangun di atas air yang menyatu dengan daratan. Penelitian ini menggunakan metode analisa
deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan dan menginterpretasi catatan budaya Suku Bajo, berupa dokumen historis,
peta lokasi, maupun wujud fisik bangunan rumah masyarakat Suku Bajo dan objek lainnya yang ada di lapangan.
Adapun pendekatan fenomenologi digunakan untuk melihat makna dalam masyarakatyang menjelaskan
pengalaman orisinal dari situasi spesifik dan bertujuan menganalisis spasial messoyang terbentuk dan aspekaspek
yang melandasi terwujudnya spasial messopermukiman Suku Bajo pada kawasan kampung petilasan
Wuring.
Hasil penelitian memberikan gambaran tentang spasial messo permukiman masyarakat Suku Bajo di pesisir
kampung petilasan Wuring Kota Maumere ini memiliki suatu pola spasial yang unik yaitu membentuk pola
linier memanjang, karena rumah-rumah tinggal masyarakat selalu berorientasi ke jalan lingkungan dan ruang
laut di belakangnya. Pola perkembangan kampung Wuring ini dimulai dari leko yaitu koral atau gugusan karang
dalam laut dan dangkal. Di atas taka ini kemudian masyarakat Suku Bajo melakukan aktivitas menangkap ikan
dengan memarkir sampan atau rumah perahu yang lama kelamaan masyarakat menanam tiang-tiang lalu
membangun rumahnya dan perlahan-lahan menimbun taka tersebut menjadi daratan. Kecenderungan ini dapat
menjelaskan keadaan kampung Wuring saat ini yaitu Wuring Tengah dan Wuring Laut yang sudah menjadi
daratan itu awalnya adalah perairan dengan taka yang ditimbun oleh Suku Bajo karena sifat uniknya bermukim
di atas laut. Pola spasial kawasan ini menunjukan adanya pengaruh ruang luar yaitu jalan dan lautan yang
keduanya bemanfaat sebagai jalur aksesibilitas kawasan. Selain itu adanya suatu relasi yang cukup kuat antara
hunian masyarakat dengan berbagai fasilitas penunjang aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

Full Text:

PDF

References


Antariksa. (2011, Februari 18). Pengaruh kebudayaan dan adat istiadat masyarakat dalam

permukiman tradisional. diakses 12 Oktober 2016, dari antariksaarticle.blogspot.com.

Ciptadi, Wahyudin. (2014). Perubahan Pola Organisasi, Hirarki Dan Orientasi Ruang Rumah

Tinggal Tradisional Melayu Pontianak Tipe Potong Limas Di Sekitar Komplek Kraton Kadriyah

Pontianak. Jurnal Vokasi, X(2), 89-97.

Citrayati, N. 2008. Permukiman Masyarakat Petani Garam Di Desa PinggirPapas, Kabupaten Sumenep.

Arsitektur e-Journal.I(1): 1-14.

Habraken, N. J. (1978). General Principles About the Way Built Environment Exist. Massachusetts:

MIT Press.

Juhana. 2000. Pengaruh Bentukan Arsitektur dan Iklim Terhadap Kenyamanan Thermal Rumah Tinggal

Suku Bajo Di Wilayah Pesisir Bajoe Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Tesis. Tidak Diterbitkan.

Semarang: Universitas Dipenogoro.

Kusnadi. (2009). Keberadaan Nelayan Dan Dinamika Ekonomi Pesisir. Yogyakarta: Ar-RuzzMedia.

Lewis, E. D. & O. P. Mandalangi. 2008. Hikayat Kerajaan Sikka. Maumere : Penerbit Ledalero.

Moeloeng, Lexy J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyati, A. (1995). Pola Spasial Permukiman di Kampung Kauman Yogyakarta. Yogyakarta: Rake

Sarasin.

Naing, Naidah. 2011. Permukiman Berpindah DalamSistem Rumah Mengapung Sebagai Proses

AdaptasiManusia dengan Lingkungan di Danau TempeSulawesi Selatan. Disertasi. ITS : Surabaya.

Nugroho, Agung Murti. (2015). Keberlanjutan ruang binaan nusantara di wilayah pesisir. Dalam

Wuisang, Cynthia & Kumurur, Veronica (Ed.), Prosiding Temu Ilmiah IPLBI: B039-B044. Manado:

Universitas Sam Ratulangi.

Prihanto, Teguh. (2008). Pengaruh kehidupan sosio-kultural terhadap spasial permukiman di

Kelurahan Sekaran sebagai daerah pinggiran Kota Semarang. Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan,

X(2), 93-102.

Rapoport, Amos. (1990). System of activities and system of settings,. Dalam Kent (Ed.). Domestic

Architecture and The Use of Space. Cambridge: Cambridge University Press.

Yuwono, N. 2005.Draft Pedoman Pengamanan dan Penanganan Pantai. Jakarta: Departemen Pekerjaan

Umum.